.breadcrumbs { padding:5px 5px 5px 0; margin:0;font-size:95%; line-height:1.4em; border-bottom:4px double #e2e7b4; } .breadcrumbs a { text-decoration:none; color: #000000; }

G.f.a Productiom

DCM Galeri Headline Animator

Showing posts with label Mastering. Show all posts
Showing posts with label Mastering. Show all posts

Friday, April 5, 2013

Pengertian Recording ,Mixing & Mastering

type='html'>


Yang belum paham mengenai istilah Recording ,Mixing & Mastering. Kali ini saya akan menjelaskan dikit satu persatu. 

1. RECORDING--> adalah teknik perekaman dimana masing- masing instrument direkam secara bergantian. Teknik ini pertama dikenalkan oleh Les Paul kalo gak salah sekitar taun 60an. Dalam teknik ini, player bisa sedikit santai karena bisa mengulang part-nya berkali-kali. Bahkan dgn keajaiban Digital multitrack recording, apabila kita melakukan kesalahan, kita gak perlu mengulang seluruh bagian, cukup yg salah aja.

2. MIXING--> Melibatkan beberapa proses didalamnya. Proses tsb antara lain: Equalizing; proses pewarnaan sound, Panning; pengaturan stereo juga Reverberation; penambahan efek suara reverb terhadap hasil rekaman...!!! Sehingga dibutuhkan Sound Engineer yg handal.

3. MASTERING--> adalah tahap akhir, mastering adalah menyamakan gain/besarnya volume sesuai dengan standard broadcast internasional ,sehingga ada perlakuan khusus dan ada indikator "level" khusus, bukan secara kasar membesarkan volume sembarangan....ada ketentuannya juga lho. Agar tidak pecah jika diputar di radio, televisi dan disemua media, lagu kamu tetap terdengar stabil dgn lagu2 yg udah ngetop lainnya. Tahap mastering juga mengakibatkan sound menjadi lebih detail terdengar, lebih warm & megah. 

View the original article here

Wednesday, October 31, 2012

Tuesday, October 30, 2012

Tips Mixdown untuk Mastering

AppId is over the quota
Jika kamu menggunakan plug-ins pada master output saat mixing, maka export dalam dua versi: A) versi pertama dengan plug-ins pada master output diaktifkan, dan B) versi kedua dengan plug-ins pada master output dinonaktifkan
Keterangan :
A adalah Versi pertama dengan plug-ins pada master output diaktifkan  B adalah Versi kedua dengan plug-ins pada master output dinonaktifkan
Mempunyai dua versi mixing memberikan pilihan in case you over-processed the mix. Pastikan ketika plug-ins di nonaktifkan tidak terjadi clipping. Jika terjadi, turunkan master fader hingga tidak terjadi clipping Jika anda mixing dalam 24 bit maka seharusnya peak tertinggi ada pada sekitar -12 dBFS hingga -3dBFS yang berarti masih ada 12 hingga 3 dB headroom sebelum melebihi digital ceiling yaitu 0 dBFS
Keterangan :
A Sinyal terlalu lemah, tidak optimal untuk masteringB Peak tertinggi di sekitar -12 hingga -3 dBFS. Baik untuk masteringC Peak di 0 dBFS, tidak diinginkan tapi masih bisa digunakanD Overloading (clipping), tidak bisa digunakan untuk menghasilkan mastering

Headroom adalah jumlah dB sebelum terjadi clipping and overload yang ditandai dengan lampu indikator pada master output. Jika terjadi, turunkan output fader hingga peak tertinggi berada pada range yang direkomendasikan. Kualitas suara tidak akan terpengaruh ketika kamu menurunkan master fader. Tetapi jika kamu melebihi digital ceiling, akan menimbulkan distorsi, dan tidak memungkinkan untuk memperbaiki kualitas orsinilnya. Tidak ada alasan untuk memaksimalkan volume saat mixing karena optimalisasi loudness akan dilakukan pada proses mastering nantinya

Mixing Tips – Dari Pandangan MasteringIsu berikut dapat diperbaiki dengan hasil yang lebih baik pada proses mixing daripada proses mastering. Pastikan kamu memperhatikan hal-hal berikut ini

Noise
Pada rekaman analog (gitar, drum, dll), gunakan mute automation untuk mengeliminasi hiss noise pada saat track tersebut tidak aktif terutama pada intro, breakdown, dan outro dimana noise berpotensi untuk terdengar.

Phase dan Polarity
Pastikan bahwa drums, synthesizer, dan elemen lainnya tidak out of phase. Dengarkan playback dalam mono, apakah suara menjadi melemah atau bahkan hilang jika polarity nya di invers.

Frekuensi Sub

Frekuensi sub (di bawah 40 Hz) yang terlalu berlebihan pada individual track dapat menyebabkan masalah pada kualitas suara dan final volume dari master. Pastikan melakukan low cut pada semua track yang tidak membutuhkan frekuensi sub. Misalnya pada vocal dapat dilakukan low cut pada 80 Hz dengan 12 dB/Octave slope. Jangan memotong frekuensi sub pada keseluruhan mix jika tidak secara hati-hati karena dapat menyebabkan mix terdengar tipis (thin)

Sibilants dan Suara Runcing/Tajam Lainnya
Suara sibilants and suara runcing/tajam lainnya merupakan tantangan yang serius ketika mastering. Pastikan vokalis mengontrol sibilants. Gunakan de-esser jika dibutuhkan, terutama broadband de-esser untuk menghindari artifact. Gunakan volume automation pada sibilants yang sangat keras, bunyi plosif, bunyi click. Perhatikan juga bunyi runcing seperti crash cymbals dan hi-hats

Level Vocal
Vocal yang tidak rata/stabil sulit untuk diperbaiki pada proses mastering. Terkadang dua compressor dengan low ratio lebih baik daripada satu compressor dengan high ratio. Namun adakalanya setelah compression kamu masih harus melakukan volume automation. Naikan atau turunkan bagian tertentu hingga semuanya terdengar smooth dan stabil. Coba untuk mendengarkan pada low volume ketika melakukan volume automation
Volume Automation pada vocal track
Versi Alternatif
Terkadang perlu untuk menyiapkan beberapa versi alternatif mixing dengan vocal lebih keras (atau lebih pelan) misalnya +0.6 db dan 1.4 db, versi instrumental, dan versi akapela atau kick/snare drum yang lebih keras.

Gunakan nama yang jelas untuk menghindari kebingunganTuliskan perbedaan perlakukan pada file name. Selain perbedaan pada file name, segala sesuatu yang lain identik 100% dengan versi normal, jangan ubah master fader. Jika dibutuhkan kita dapat memilih beberapa versi alternatif sebagai final mix.

Start/End
Pada saat export, tambahkan minimal satu bar kosong sebelum lagu benar-benar dimulai dan beberapa bar di akhir lagu untuk memastikan reverb, delay, dan instruments decay habis sepenuhnya
Tambahkan bar kosong di awal dan akhir lagu
Fades
Jangan lakukan fade out saat mixing. Katakan kepada mastering engineering kapan fade out mulai hingga akhir, misalnya fade dari 3:15 hingga 3:30 atau fade out 15 detik terakhir

File Format
WAV atau AIFF lebih disukai.

Stereo Format
Pilih interleaved stereo bukan split stereo saat mixdown untuk mastering. Jika sequencer kamu tidak memberikan pilihan maka kemungkinan adalah interleaved stereo.

Bit Resolution
Guanakan 24. 16 bit hanya digunakan jika tidak memungkinkan untuk mendapatkan 24 bit. 32 bit floating point tidak digunakan untuk mixdown untuk mastering karena dengan bunyi yang identika dengan 24 bit, 32 bit floating point memakan banyak space dan lebih lambat dalam hal transfer data.

Sample Rate
44.1 kHz atau lebih tinggi. Hanya export pada lebih tinggi dari 44.1 kHz jika proyek direkam dan diproses pada rate tersebut. Keuntungan dan kerugian dari sample rate diatas 44.1 kHz masih diperdebatkan. Jika proyek kamu diatas 44.1 kHz jangan convert sample rates sendiri, biarkan mastering engineer yang melakukannya pada proses mastering.

Dithering dan Noise Shaping
Jangan gunakan noise shaping atau colored dither, seperti UV22 saat export mixdown untuk mastering. Reduksi final bit menjadi 16 bit (audio CD format) dilakukan pada proses terakhir saat mastering

Normalizing
Jangan lakukan normalize pada mixdown. Final volume level akan dioptimalisasikan pada proses mastering

Dengarkan Mixdown
Selalu dengarkan mixdown dari awal hingga akhir sebelum dikirim untuk proses mastering. Pastikan lagu dimainkan dengan benar dari awal hingga akhir, struktur lagu benar, dan tidak ada artifcat atau bunyi click.

Dan, selesai! oke itulah beberapa Tips Mixdown untuk Mastering yang dapat anda gunakan sebagai acuan :)

Distorsi | Alat Rekaman | Studio Rekaman | Home Recording



View the original article here

Monday, October 29, 2012

Cara mudah Recording

Home Recording, Drum record, guitar record, Bass Record, Keyboard record, easy record, Tutorial recording, Cara dasar Recording, Instrument Recording, Music Record, Mastering, Mixing, Entertaiment, download Pdf tutorial Music, 

Recording Made Easy.pdf

Tuesday, May 1, 2012

EMI TG Mastering (Musik Digital plug-in)

type='html'>
EMI TG Mastering (plug-in musik-digital) menyediakan emulasi otentik dari sebuah EQ dan modul filter dari konsol TG12410 yang telah ditransformasikan oleh EMI ke dalam suatu model plug-in. Konsol (TG12410) ini adalah alat tambahan yang dibangun untuk studio EMI dan telah menjadi pusat proses mastering dari sebuah recording studio, serta telah menguasai Abbey Road (UK) selama lebih dari 30 tahun.



Nada Kontrol dari console TG12410 dan modul Filter telah menjadi sebuah senjata rahasia Abbey Road's mastering-engineer, dan console ini telah dipelajari serta dimanifestasikan dalam sebuah model EMI TG Mastering-pack. Plugin ini mampu menyuguhkan reproduksi suara/musik (musik-digital) yang halus dari sebuah hardware (komputer) workstation yang berbasis audio (musik-digital).
EMI TG Mastering-pack plug-in untuk mixing maupun mastering ini dituangkan dalam dua model plug-in yaitu TG 12412 dan TG 12414 yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri, dan bilamana digunakan secara bersamaan, akan menghasilkan reproduksi suara sebagaimana yang dihasilkan oleh satu console-pencampur model TG 12345 yang cukup legendaris dalam proses mixing-mastering

Download software mixing-mastering ini dapat anda dilakukan lewat link berikut ini   :


Bilamana anda memiliki dana yang cukup, kami persilahkan anda untuk membeli software yang asli, kami tidak menjamin kualitas software yang bukan asli ini.

Lihat tutorial lain tentang Recording

View the Original article

MUSIK DIGITAL : ANALOG MASTERING TOOL

type='html'>
Analog Mastering Tool (AMT) merupakan salah satu dari sekian banyak plug-in dalam dunia musik-digital yang dipersembahkan oleh Nomad Factory, berfungsi membantu kita dalam proses mixing ataupun mastering musik-digital.
Plug-in termasuk ke dalam golongan "high resolution limiter and multi-band dynamics processor" yang terdiri dari tiga buah plug-in, yaitu : AMT Amp Leveling, AMT Max-Warm dan AMT Multi-Max, memiliki karakter powerfull dan efisien, karena telah terintegrasi dengan suatu dynamics-processor, equalizer dan efect-efect lainnya. Salah satu plug-in yang cukup bagus dipergunakan dalam khasanah musik-digital. Khususnya plug-in untuk mixing dan mastering musik-digital.


Video Tutorial (screen shot) dari Analog Mastering Tool (AMT) ini dapat anda saksikan berikut  ini, namun hanya berupa visual pendahuluan, sedangkan untuk setting vitur-viturnya silahkan anda kreasikan sendiri.





Analog Mastering Tool atau yang disingkat dengan nama AMT ini dapat dipergunakan untuk menggantikan peran PSP Vintage Warmer dalam kerangka proses mixing ataupun mastering musik-digital. Cukup bagus serta mudah dalam pengoperasiannya. Reproduksi suara atau musik yang dihasilkan pun cukup memadai untuk telinga-telinga awam. Cukup bagus untuk melengkapi koleksi-koleksi plug-in musik-digital anda.

Penjelasan lebih mendetail, dapat anda baca di sini, selanjutnya untuk down-load software ini silahkan klik link di bawah ini   :

ANALOG MASTERING TOOL_1
ANALOG MASTERING TOOL_2

Sebaiknya untuk melengkapi pengetahuan anda, silahkan juga membaca artikel-artikel lainnya tentang mixing dan mastering yang telah tersedia pada halaman-halaman berikutnya.


Selamat berkreasi dan jangan lupa tulis komentar pada kolom yang telah tersedia.

Lihat tutorial lain tentang Recording

View the Original article

Monday, April 30, 2012

Recording Modern

Saya mengenal recording baru-baru ini, sama persis waktu saya mulai belajar blues yaitu sejak tahun 2005. Kebetulan mempunyai teman dari Amerika yang kerjaannya animator film, scoring, dubbing, dll. ya pokoknya Mr. M ini berjasa sekali mengenalkan pengetahuan komputer recording dan software sama saya. Ia salah satu team kreator untuk film spiderman dan batman. Untuk melengkapi pengetahuan recording juga banyak buku yang dibaca misalnya: Modern Recording Techniques - David Miles Huber, Digital Audio Explained - Nika Aldrich, Make Mine Music - Bruce Swedien, The Guide To Midi Orchestration - Paul Gilreath dan Production Mixing Mastering With Waves - Anthony Egizii.
Ini salah satu lagu yang pertama kali saya rekam dengan Sonar 3 pada tahun 2005 (terakhir Sonar 8 -2008).
Pengetahuan yang saya tulis adalah benar-benar dasar recording dan tentu bagi pemula macam saya yang ingin lagu ciptaannya terekam sebagai sebuah lagu. Recording adalah proses yang rumit karena melibatkan diantaranya pengetahuan seperti:
  1. Instrumen: Setiap instrumen mempunyai cara recording berbeda. Semakin bagus kualitas instrumen semakin bagus hasil rekaman.
  2. Pro Audio: Pengetahuan tentang output/sound out instrumen seperti characteristic suara gitar yang menggunakan efek/mesin gitar. Semakin bagus pengetahuan output instrumen maka hasil recording juga bagus.
  3. Wiring: Pengkabelan.
  4. Miking: Cara penempatan microphone waktu merekam instrumen.
  5. Pre Amp: Untuk menghasilkan output bagus dari pro audio terkadang memerlukan pre amp.
  6. Komputer recording: Sama dengan komputer PC biasa cuma spek harus disesuaikan.
  7. Sound card: Jembatan antara instrumen dan komputer agar instrumen dapat terekam pada sotfware.
  8. Software: Software recording dan software pendukung.
  9. Mixing dan Mastering.
Ini diantaranya yang paling penting. Namun jangan terlalu dipikir susah dulu, dan kalau anda sudah mendengar contoh lagu di atas yah nggak bagus tapi cukup kalau bisa merekam saja maka nggak lama lagi anda akan bisa merekam lagu seperti itu.
Fokus materi di sini adalah recording gitar dan vocal serta pengetahuan MIDI umum agar anda bisa membuat lagu seperti contoh di atas.
Skema recording jaman modern:
Contoh 1
recording direct inputIni contoh paling sederhana menggunakan metode direct input karena efek gitar Line 6 yaitu rekomendasi Tone Port UX2 dan POD XT Pro sebenarnya sudah dirancang untuk sekaligus berfungsi sebagai sound card. Install software dari efek gitar ini maka siap berfungsi sebagai sound card.

Contoh 2

Ini contoh menggunakan sound card recording. Dalam contoh ini koneksi Line 6 terputus dari komputer akan tetapi hanya berfungsi sebagai efek gitar saja. Dan hasil recording tergantung dari pro audio atau sound out combo. Untuk merekam tetap menggunakan microphone dan tentu hasil juga tergantung dari miking dan tipe microphone. Cara-cara ini sudah bisa untuk rekaman live band. Sound card ada 16 analog input dan kalau kurang tinggal tambah yang sama sebagai extensi.
Tips: Kalau memang peralatan dari instrumen sampai dengan microphone kualitasnya jelek maka disarankan untuk rekaman direct input saja. Semua contoh dari pelajaran blues menggunakan sistem direct input.
Contoh 3

Contoh ini sama dengan contoh 2 akan tetapi ditambahkan unit control surface atau semacam DAW (Digital Audio Workstation) yang berfungsi mengontrol aktifitas track dan menggantikan fungsi keybord serta mouse. Sudah bisa untuk studio professional. Untuk set-up sistem ini belinya bisa sebagian-sebagian dulu.
Contoh 4

Atau bagaimana dengan yang ini? Kalau uang bukan masalah maka D Command adalah dream studio anda. Siap bisnis recording yang benar-benar AAA class. Inilah DAW terintegrated dengan sistem komputer, pre amp, dan hardware pendukung lainnya.
Semoga gambaran umum recording ini menjadi bahan pengetahuan yang berguna. Tapi kalau masih nyaman dengerin lagu dari mp3 maka alat canggih jadi biasa saja. Dan untuk di Indonesia sangat jarang orang tahu recording dengan standar Audiophile jadi rasanya sistem recording AAA class bukan satu keperluan yang mendesak.

Lihat tutorial lain tentang Recording

Saturday, April 28, 2012

Cara Recording Dengan Adobe Audition 3 "Bagian 1"

Tanpa banyak basa-basi langsung kita mulai ke topik pembahasan, Tata cara recording, di sini kita akan membahas cara recording vocal dengan menggunakan software buatan adobe yaitu Auditon 3.0 , pada awalnya kita harus mengetahui apa itu kegunaan dan apa saja yang bisa di lakukan oleh software tersebut,
 Adobe Audition 3 adalah sebuah software yang di gunakan untuk Recording dan editing audio digital, bahkan anda bisa membangun sebuah Studio recording rumahan hanya bermodalkan Komputer, mic dan headset sederhana serta tak lupa msoftware “Adobe Audition 3”, software ini merupanakan pengembangan dari varian software “Cool Editpro” buatan adobe, sebelum merilis “Adobe Audition 3” adobe terlebih dahulu merilis “Adobe Audition 1.5” yang memiliki tampilan seperti pendahulunya “Cool Editpro” namun dalam “Au 1.5” (Adobe Audition 1.5) memiliki tambahan fitur effect lebih banyak di banding “Cool Editpro” setelah merilis Au 1.5, adobe kembali merilis “Adobe Audition 3” dengan wajah baru dan interface yang bersahabat sehingga pengguna dapat dengan mudah untuk mengoprasikan Au 3 dan tentunya dengan fitur effect yang lebih banyak dan tertata dengan rapi.
Untuk tampilan dalam Au 3 ada form/halaman yang penting untuk di ketahui, yang pertama adalah :




Multi track
Untuk Multi Track sendiri di gunakan sebagai halaman untuk melakukan kegiatan recording, ada banyak sekali fitur-fitur dalam Multi Track itu sendiri. Pada bagian sebelah kanan sendiri ada menu “file” dan “effects” menu file sendiri berguna untuk membuka file audio dari browser anda.

 Fitur-fitur vital pada Multi track
   Ket:
1. Untuk membuka file dari browser.
2. Untuk menghapus file dari list file.
3. Untuk mengedit file.
4. Untuk memasukan file ke Multi Track.
5. Untuk memasukan file ke dalam list CD.
6. Untuk menampilkan atau menutup menu option yang berada pada bagian bawah yang
di tunjukan oleh no 7-9.
7. Untuk memainkan / memutar file audio.
8. Untuk mengatur volume file yang ingin di putar.
9. Menu untuk melihat file-file mulai file audio, video dll yang telah di ambil dari browser.
10. List file.

Ket :
1. Tombol untuk menghilangkan suara ketika Multi track di Play pada track yang apabila tombol tersebut di hidupkan.
2. Tombol untuk memutar satu track ketika Multi Track di Play yang apabila tombol tersebut di hidupkan.
3. Tolmbol ini berfungsi untuk menentukan di track mana anda akan melakukan recording, saat anda menyalakan tombol tersebut automatis akan muncul jendela browser untuk menyimpan data recording dan menyimpan data season Multi track,

Ket :
Akan muncul halaman browser ketika anda menyalakan tombol “R” seperti yang di tunjukan pada gambar

4. Untuk mengontrol arah audio pada track baik itu ke sebelah kiri atau sebelah kanan sound pada model-model sound stereo.
5. Untuk mengatur volume suara.
6. Untuk pengaturan input pada tiap track.


 Ket :
1. Apabila microphone Stereo maka baiknya menggunakan set Stereo.
2. Apabila microphone Mono maka baiknya menggunakan set Mono.
3. Berguna untuk menyamakan input untuk track yang lain agar mengikuti set track tersebut.
4. Apabila ada dua atau lebih microphone yang terpasang pada computer maka anda bisa memilih pada menu tersebut, tapi sebelum itu anda harus mengatur terlebih dahulu agar semua microphone bisa terdeteksi oleh Au 3 dengan cara masuk ke “Audio Hardware Setup”.
5. Untuk mengatur perangkat keras seperti microphone dll yang ingin di gunakan untuk recording.

Apabila anda ingin mengatur hardware agar dapat terbaca oleh Au 3, anda masuk ke tempat pengaturan, klik “control panel” pada gambar yang di tunjukan oleh lingkaran merah. Dan akan muncul jendela window baru, setelah itu beri tanda“x” seperti pada gambar untuk audio yang ingin anda gunakan. Setelah itu klik “OK”.


7. Fungsinya sama dengan penjelasan pada no 6, tapi bedanya untuk no 6 di gunakan untuk mengatur Input sedangkan untuk gambar yang di tunjukan oleh anak panah no 7 di gunakan sebagai pengaturan Output.
8. Track, digunakan untuk jalur anda melakukan recording.



Ket :
1. Tombol Stop. / Jalan pintas (space)
2. Tombol Play. / jalan pintas (space)
3. Tombol Pause.
4. Tombol Play dari Cursor.
5. Tombol Play dari Loops.
6. Tombol untuk Record track, ketika tombol “R” pada salah satu track aktif / jalan pintas
(CTRL + Space)
7. Tombol Next.
8. Tombol Fast Forward.
9. Tombol Rewind
10. Tombol Previous.

Catatan :
“Itu tadi merupakan tombol dan fitur penting dalam Adobe Audition 3, mungkin kurang lengkap karena masih banyak lagi fitur dan tombol-tombol lain”.


Sekian Dulu Tutorial Dari Kami, Tunggu Tutorial berikutnya karena kami akan membahas tuntas tentang cara recording menggunakan Adobe Audition 3.0           by Grasak F**k Audio Production 

Jika Ada yang perlu di tanyakan, Silahkan tulis di komentar postingan ini 
Terima kasih

Friday, April 27, 2012

Tips Mixdown untuk Mastering

Plug-ins pada Master Output
Jika kamu menggunakan plug-ins pada master output saat mixing, maka export dalam dua versi: A) versi pertama dengan plug-ins pada master output diaktifkan, dan B) versi kedua dengan plug-ins pada master output dinonaktifkan
Keterangan :
  • A adalah Versi pertama dengan plug-ins pada master output diaktifkan  
  • B adalah Versi kedua dengan plug-ins pada master output dinonaktifkan

Mempunyai dua versi mixing memberikan pilihan in case you over-processed the mix. Pastikan ketika plug-ins di nonaktifkan tidak terjadi clipping. Jika terjadi, turunkan master fader hingga tidak terjadi clipping

Headroom
Jika anda mixing dalam 24 bit maka seharusnya peak tertinggi ada pada sekitar -12 dBFS hingga -3dBFS yang berarti masih ada 12 hingga 3 dB headroom sebelum melebihi digital ceiling yaitu 0 dBFS
Keterangan :
  • A Sinyal terlalu lemah, tidak optimal untuk mastering
  • B Peak tertinggi di sekitar -12 hingga -3 dBFS. Baik untuk mastering
  • C Peak di 0 dBFS, tidak diinginkan tapi masih bisa digunakan
  • D Overloading (clipping), tidak bisa digunakan untuk menghasilkan mastering


Headroom adalah jumlah dB sebelum terjadi clipping and overload yang ditandai dengan lampu indikator pada master output. Jika terjadi, turunkan output fader hingga peak tertinggi berada pada range yang direkomendasikan. Kualitas suara tidak akan terpengaruh ketika kamu menurunkan master fader. Tetapi jika kamu melebihi digital ceiling, akan menimbulkan distorsi, dan tidak memungkinkan untuk memperbaiki kualitas orsinilnya. Tidak ada alasan untuk memaksimalkan volume saat mixing karena optimalisasi loudness akan dilakukan pada proses mastering nantinya

Mixing Tips – Dari Pandangan Mastering
Isu berikut dapat diperbaiki dengan hasil yang lebih baik pada proses mixing daripada proses mastering. Pastikan kamu memperhatikan hal-hal berikut ini

Noise
Pada rekaman analog (gitar, drum, dll), gunakan mute automation untuk mengeliminasi hiss noise pada saat track tersebut tidak aktif terutama pada intro, breakdown, dan outro dimana noise berpotensi untuk terdengar.

Phase dan Polarity
Pastikan bahwa drums, synthesizer, dan elemen lainnya tidak out of phase. Dengarkan playback dalam mono, apakah suara menjadi melemah atau bahkan hilang jika polarity nya di invers.

Frekuensi Sub

Frekuensi sub (di bawah 40 Hz) yang terlalu berlebihan pada individual track dapat menyebabkan masalah pada kualitas suara dan final volume dari master. Pastikan melakukan low cut pada semua track yang tidak membutuhkan frekuensi sub. Misalnya pada vocal dapat dilakukan low cut pada 80 Hz dengan 12 dB/Octave slope. Jangan memotong frekuensi sub pada keseluruhan mix jika tidak secara hati-hati karena dapat menyebabkan mix terdengar tipis (thin)

Sibilants dan Suara Runcing/Tajam Lainnya
Suara sibilants and suara runcing/tajam lainnya merupakan tantangan yang serius ketika mastering. Pastikan vokalis mengontrol sibilants. Gunakan de-esser jika dibutuhkan, terutama broadband de-esser untuk menghindari artifact. Gunakan volume automation pada sibilants yang sangat keras, bunyi plosif, bunyi click. Perhatikan juga bunyi runcing seperti crash cymbals dan hi-hats

Level Vocal
Vocal yang tidak rata/stabil sulit untuk diperbaiki pada proses mastering. Terkadang dua compressor dengan low ratio lebih baik daripada satu compressor dengan high ratio. Namun adakalanya setelah compression kamu masih harus melakukan volume automation. Naikan atau turunkan bagian tertentu hingga semuanya terdengar smooth dan stabil. Coba untuk mendengarkan pada low volume ketika melakukan volume automation
Volume Automation pada vocal track

Versi Alternatif
Terkadang perlu untuk menyiapkan beberapa versi alternatif mixing dengan vocal lebih keras (atau lebih pelan) misalnya +0.6 db dan 1.4 db, versi instrumental, dan versi akapela atau kick/snare drum yang lebih keras.

Gunakan nama yang jelas untuk menghindari kebingungan
Tuliskan perbedaan perlakukan pada file name. Selain perbedaan pada file name, segala sesuatu yang lain identik 100% dengan versi normal, jangan ubah master fader. Jika dibutuhkan kita dapat memilih beberapa versi alternatif sebagai final mix.


Start/End
Pada saat export, tambahkan minimal satu bar kosong sebelum lagu benar-benar dimulai dan beberapa bar di akhir lagu untuk memastikan reverb, delay, dan instruments decay habis sepenuhnya
Tambahkan bar kosong di awal dan akhir lagu

Fades
Jangan lakukan fade out saat mixing. Katakan kepada mastering engineering kapan fade out mulai hingga akhir, misalnya fade dari 3:15 hingga 3:30 atau fade out 15 detik terakhir

File Format
WAV atau AIFF lebih disukai.

Stereo Format
Pilih interleaved stereo bukan split stereo saat mixdown untuk mastering. Jika sequencer kamu tidak memberikan pilihan maka kemungkinan adalah interleaved stereo.

Bit Resolution
Guanakan 24. 16 bit hanya digunakan jika tidak memungkinkan untuk mendapatkan 24 bit. 32 bit floating point tidak digunakan untuk mixdown untuk mastering karena dengan bunyi yang identika dengan 24 bit, 32 bit floating point memakan banyak space dan lebih lambat dalam hal transfer data.

Sample Rate
44.1 kHz atau lebih tinggi. Hanya export pada lebih tinggi dari 44.1 kHz jika proyek direkam dan diproses pada rate tersebut. Keuntungan dan kerugian dari sample rate diatas 44.1 kHz masih diperdebatkan. Jika proyek kamu diatas 44.1 kHz jangan convert sample rates sendiri, biarkan mastering engineer yang melakukannya pada proses mastering.

Dithering dan Noise Shaping
Jangan gunakan noise shaping atau colored dither, seperti UV22 saat export mixdown untuk mastering. Reduksi final bit menjadi 16 bit (audio CD format) dilakukan pada proses terakhir saat mastering

Normalizing
Jangan lakukan normalize pada mixdown. Final volume level akan dioptimalisasikan pada proses mastering

Dengarkan Mixdown
Selalu dengarkan mixdown dari awal hingga akhir sebelum dikirim untuk proses mastering. Pastikan lagu dimainkan dengan benar dari awal hingga akhir, struktur lagu benar, dan tidak ada artifcat atau bunyi click.

Dan, selesai! oke itulah beberapa Tips Mixdown untuk Mastering yang dapat anda gunakan sebagai acuan :)

Lihat tutorial lain tentang Recording

Distorsi | Alat Rekaman | Studio Rekaman | Home Recording


View the Original article

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Klik di sini untuk melihat:


Entri Populer

Grasak Fuck Audio Production

Followers

Search Engine

Loading
x

join to my fans at facebook